Move Move Move
November 28th, 2005 by marcelliaBlog saya untuk seterusnya dipindahkan dan dilanjutkan disini .
Blog saya untuk seterusnya dipindahkan dan dilanjutkan disini .
Saya yang mengisi blog ini, Mira Marsellia Crenata (ternyata SEHARUSNYA nama saya Mira Marsilea Crenata, setelah 31 tahun kebenaran ini baru terungkap! Dulu rupanya Bapak saya salah nulis waktu daftar di kantor pembuatan Akte), setuju untuk melaksanakan dan berkomitemen atas resolusi yang dibuat dengan negosiasi bersama diri saya sendiri, untuk dilaksanakan pada tahun 2006, sbb:
Kehidupan
Segala yang musnah adalah kebutuhan bagi yang lain,
(itu sebabnya kita bergiliran lahir dan mati)
Seperti gelembung-gelembung di laut berasal
Mereka muncul
kemudian pecah
dan kepada laut
mereka kembali
Alexander Pope, An Essay of Man
Tulisan tersebut terdapat pula pada bab awal Kromosom 1 di buku Genom (in English Genome, bukan Gnome lho…kalo Gnome yang itu itu artinya Jembalang: baca di Harry Potter, The Goblet of Fire). Buku Genom ini karangan Matt Ridley.
Buku ini menceritakan tentang genom manusia, seperangkat lengkap gen yang terdapat dalam 23 pasang kromosom, tidak lain adalah autobiografi spesies kita, manusia. Ini terungkap dalam sekitar satu miliar kata tiga huruf menggunakan empat huruf abjad DNA, karena apapun yang dialami oleh spesies kita dari generasi ke generasi, semuanya tercatat dalam langkah-langkah penyuntingan, pemotongan, penyingkatan, pengubahan, penambahan, dan sebagainya terhadap kumpulan kata tersebut. Dengan telah diumumkannya "draft kasar" genom manusia, berarti kita generasi yang beruntung ini menjadi makhluk yang mampu membaca buku pintarnya sendiri, sekaligus memperoleh wawasan paling mendalam, tentang makna hidup, tentang arti menjadi manusia, dan tentang tentang kesadaran.
Hampa
Chairil Anwar
Sepi di luar. Sepi menekan medesak
lurus kau pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut
Tak satu kuasa melepas renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat mencengkung pundak
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti
Review
Tidak ada.
Sudah jelas.
Sepi itu jurang mati tak berdasar.
Abyss di samudera liar tak bernama.
Bukan cuma orang Yunani yang punya kisah tragedi. Engga usah jauh-jauh. Di tanah Sunda juga ada. Tragedi Palagan Bubat terjadi pada tahun 1357. Seperti dikisahkan dalam kitab Pararaton diantaranya :
Bre prabhu ayun ing putri ring Sunda. Patih Madu ingutus angundangeng wong Sunda
Terjemahannya adalah :
Sri Prabu Hayam Wuruk ingin memperistri puteri dari Sunda. Patih Madu diutus mengundang orang Sunda.
Prabu Maharaja Linggabuana dengan permaisurinya Dewi Lara Linsing memiliki puteri cantik jelita yang diberi nama Dyah Pitaloka. Oleh kakeknya Prabu Ragamulya Luhur Prabawa diberi nama pula Citraresmi. Lahir pada tahun 1339 Masehi.
Sang puteri terkenal dengan kecantikannya sehingga dijuluki wajra yang berati permata. Sang Prabu Hayam Wuruk menginginkan untuk memperistri sang Puteri, dimana hal tersebut memiliki alasan logis karena mengingat kekerabatan Sunda - Majapahit yang telah terjalin dengan baik sejak lama. Pendiri Majapahit, yaitu Raden Wijaya yang bergelar Sang Kertarajasa Jayawardhana adalah cucu dari Prabu Darmasiksa- Maharaja Sunda.
Untuk itu Bre Majapahit mengutus Patih Madu sebagai utusan kerajaan. Prabu Maharaja Linggabuana menerima lamaran tersebut dan menyetujui untuk melaksanakan upacara pernikahan di keraton kerajaan Majapahit.
Namun sayang Mahapatih Gajah Mada tidak menyetujui pernikahan tersebut. Diam - diam ia menginginkan Sang Rajaputeri untuk diserahkan sebagai upeti demi terlaksananya Sumpa Amukti Palapa yang dicanangkannya.
Seperti yang diberitakan oleh kitab Pararaton :
Teka ratu Sunda maring Majapahit, sang ratu Maharaja tan pangaturakan putri. Wong Sunda kudu awaramena tingkahing jurungen. Sira Patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen reh sira rajaputri makaturatura.
Yang artinya:
"Lalu Raja Sunda datang di Majapahit. Sang Ratu Maharaja tidak bersedia mempersembahkan sang puteri. Orang Sunda harus meniadakan selamatan dan upacara pernikahan kata sang utusan. Sang Mahapatih Majapahit Gajah Mada tidak menginginkan pernikahan resmi, sebab ia menganggap rajaputeri Citraresmi sebagai upeti."
Akhirnya Sang Patih meluap amarahnya atas penolakan sang Raja Sunda. Ia memerintahkan laskar Majapahit untuk menghabisi Raja beserta pengiringnya yang hanya beberapa puluh orang.
Sang Mahaprabu tidak gentar. Ia berseru :
"Walaupun darah akan mengalir bagai sungai di Palagan Bubat ini, namun kehormatanku dan semua ksatria Sunda tidak akan membiarkan penghianatan terhadap negara dan rakyatku. Karena itu , janganlah kalian bimbang!"
Mungkin seperti teriakan William Wallace dalam film Brave Heart sewaktu menyongsong pasukan Inggris.
Pertempuran yang tidak berimbang ini mengakibatkan seluruh orang Sunda tewas. Sang Ratu dan sang Ratna Citraresmi melakukan bela pati. Pembesar, pengiring, dayang-dayang, tak seorangpun yang tersisa.
Ketika Hayam Wuruk tiba di Palagan Bubat, sangatlah sedih hatinya. Setelah semua jenazah disempurnakan dan dibakar, abu jenazah kemudian dikuburkan di Astana Gede, Kawali.
Kemudian Sang Prabu jatuh sakit yang amat lama. Kerajaan menyalahkan Gajah Mada dan merencakan agar Gajah Mada ditangkap dan dihukum. Sang Patih melarikan diri dan tak tentu rimbanya. Akhir hidupnyapun tidak diketahui dan dicatat dalam sejarah.
Karya kakak sepupu saya, bertahun-tahun lalu, dimuat di harian PR entah hari apa tanggal berapa…
Dendam
karya : Lela Candrawulan
ataukah aku
harus mengobrak abrik langit
yang sebentar jingga sebentar ungu
untuk mencari bulan sabit
kemudian kutikam ke dadamu
seperti engkau
mencabik-cabik hatiku
dengan panah berbisamu
Review :
Ungkapan hiperbolis yang jelas-jelas mengungkapkan kemarahan luar biasa dan optimisme yang tinggi. Mengapa engga mencoba mengobrak-abrik pasar? Selain resiko tertinggi dilabrak preman pasar, kemungkinan mendapat clurit akan lebih mudah, kalau bulan sabit yang dimaksud disini adalah clurit.
Saya simpulkan, lelaki yang menyakiti hati si Teteh adalah seorang neurotik (bener teu nya nulisna?) yang jelas punya kecenderungan aneh dengan membawa-bawa panah. Atau mungkin dia pemburu gila yang lebih memilih panah daripada sumpit. Atau mungkin dia orang Kubu suku Anak Dalam. Atau orang Papua yang masih memiliki panah sebagai senjata. Atau orang Indian.
Ada makanan baru di SD. Atau mungkin sudah lama, cuma sayanya aja engga tau. Namanya Jamur Chicken. Jelas-jelas jamur tapi dibilang chicken. Alasannya mungkin karena dibalut tepung fried chicken. Mungkin merknya Kobe, atau apa. Saya engga sempat nanya. Yang jelas saya lebih setuju jamur yang digoreng daripada ayam Tiren yang digoreng.
Ayam Tiren adalah ayam mati kemaren, hiii……di TV pernah dibahas ayam-ayam yang mati tapi tetap dijual dengan murah. Makanya Fraid Chicken pinggir jalan harganya (katanya) suka murah banget!. Ayam Tiren engga ada hubungannya dengan Tyrenz Shayna atau Tyrannosaurus (kayaknya ngetop dengan nama T-Rex).
Jamur yang digoreng, saya engga tau namanya. Mungkin Jamur Payung. Moga-moga aja bukan jamur racun, kan kasihan tuh anak SD yang jajan disitu. Silahkan baca Deskripsi Jamur di link ini kalau mau lihat jenis-jenis jamur.
Mungkinkah Jamur Chicken ini bisa menambah khazanah jajanan Bandung yang udah terkenal sebelumnya. Sebut saja Batagor, Baso Tahu Goreng yang sudah tidak asing lagi dan dianggap makanan asli dari Bandung. Batagor Ririe, Batagor Abuy, Batagor Kingsley, Batagor Isan…, terus jangan tanya lagi yang namanya makanan dari aci eh tapioka, Cireng; Aci digoReng, Cilok: Aci dicoLok, Cimol ; Aci Small eh sMol….Ha..ha..ha..
Geus ah rek gawe…
Siapa yang seneng ngopi? Pasti saya temenin. Saya hobi ngopi, especially in the morning, siang-siang di kantor pas jam ngantuk, malem-malem kalau baca buku atau surfing, dan setiap kali hujan.
Kopinya apa aja nu penting enak. Waktu kuliah dan sering ngumpul sama Gank Sarijadi (memang kita nge-gang dan tempat ngumpulnya di gang, tapi bukan Kool and the Gang => nama lain lotek), berhubung temen saya lolobana cowok dan tukang gapleh, sialnya saya kebagian sebagai..tukang bikin kopi buat mereka!
Kopi paling enak saya rasakan waktu entah kenapa saya suatu malam minggu saya mau aja kekempingan di Cikole. Terus hujan gede banget. Tendanya selain bocor terus rubuh. Akhirnya kita nongkrong di warung. Tirisna bukan main. Mungkin saya nyaris hipotermia, da asa udah engga bisa ngomong, gigi geligi saya rapet seperti dilem sama lem super (bahasa Sunda: kekerot).
Lalu dengan badan gemetaran dan gigi gemeletukan, saya minum kopi. Waduh enak banget! Itu kopi terenak di dunia. Padahal kalau saja itu bukan kopi, misalnya air lumpur pun, asal panas pasti saya minum juga, dan pasti juga komentar saya "ENAAAKKK!". Untungnya itu kopi. Bukan lumpur.
Kopi yang saya senang, tidak manis. Malahan mun bisa mah jangan pake gula. Kecuali kalo tanggung dibikinin orang. Kopi paling engga enak? Kopi kecampur minyak tanah. Waktu kos dulu saya pernah minum yang jenis begini. Soal kopi nanti saya mau nulis sendiri artikelnya deh. Dulu kayaknya pernah baca soal perkopian di majalah Swa, soal sejarah kopi Kapal Api. Terus kalo di Starbucks, saya juga suka iseng baca-baca semua brosur dan posternya. Kalau nulis sekarang sih maaf ya, bahannya mesti dikumpulin dulu. Nanti deh saya cari di koleksi buku Bapak, mungkin ada cerita tentang tanaman kopi jenis Arabica atau Robusta.
Bapak saya entah kenapa ngumpulin mulu buku soal tanaman, kaktus, pertanian, gulma, anggrek, mawar, beternak gurame, lebah, ayam, bebek, sapi dan entah apalagi only God knows, saya engga ingat.
Kalo di kampung saya nun di gunung sana, koppi dan teh sering dibikin secara manual. Bunga kopi, hmmm..harum banget! Biji kopi yang sudah matang, disangrai pakai wajan tebal hitam sampai kering, dan ditumbuk di lumpang batu. Enak, enak, enak.
Tapi suati hari saya pernah minum kopi yang pahitnya pahit pisan. Terus warna hitamnya mencurigakan saking hitamnya. Selidik saya selidik, " euh Neng ata mah sanes kopi eta mah kedele..!" Walah, masa kedelai dijadiin kopi. Ternyata tidak hanya kedelai, biji jagung pun sering dijadikan kokopian kalau kepepet.
"Euleuh Ni, sakantenan wae atuh areng ditutu dijantenkeun kopi, sigana sae kanggo obat mencret..". kata saya.
Kisah seorang Samurai yang nyentrik, pecinta ulung, dan memiliki kemampuan supranatural. Mau apa lagi coba? Masalah Emily rela mati untuk melahirkan keturunan Bangsawan Agung: dari kacamata feminin yang berjiwa romantis dan heroik, sangat sangatlah bisa dimengerti.
Buku pertama mengisahkan sang Bangsawan Agung Genji Okumichi, Daimyo Akaoka, yang kata konon, dibalik penampilannya yang flamboyan dan metroseksual (pada jamannya mungkin bisa disebut diapun pria pengikut fashion yang up to date), terdapat tubuh liat berotot ala petarung sejati.
Buku kedua lebih mendalami kisah kehidupan leluhur Genji dan lanjutan kisah cinta segitiga yang mendebarkan antara Genji, Emily dan Geisha cantik Heiko (yang juga mati melahirkan anak Genji, lha kepriben ya, kok pada mati semua).
Buku ini disarankan untuk wanita romantis yang ingin mengeksplorasi sisi lembut dari sosok pria samurai Jepang yang tanpa meninggalkan kepiawaiannya menebas samurai dapat tetap memukau wanita. Sebelum membaca buku ini, lupakan sosok ilustrasi samurai di sampul depan buku Musashi, agak merusak image soalnya. Kayaknya kalau Genji engga banget deh mirip Musashi.
Agak sedikit kecewa dengan penerbit (Indonesia oleh Qanita), buku pertama yang saya punya banyak halaman dobel yang kebalik-balik, jadi aja sempat bacanya engga pararuguh.
Note :
Biasanya kalau baca buku saya diskusi dengan Mama saya dan adik sang pencinta buku juga, Cuma emang beda aliran.